Kamis, 08 Mei 2014

Secangkir Rindu (Last Part 12)



SECANGKIR RINDU UNTUK DIGA

Di atas awan
(Last Part, 12)


Diga masih tersenyum memandangiku. Tapi aku terjatuh di tempat dudukku. Aku tidak bisa bernafas normal. Kakiku sama sekali tidak bisa di ajak komproni, tiba-tiba dia melumpuh begitu saja. Aku tidak bisa menghampiri diga. Walaupun jarak kita sedekat ini, tapi bagiku terasa sangat jauh. Debar hatiku masih sama seperti pertama kali diga memelukku.

Aku terdiam, aku masih terus menangis. Aku melihat windy selesai membaca surat diga dan dia memandangiku. Aku tau dia bingung, apalagi aku yang mengalaminya sendiri. aku juga bingung. Bahkan setengah mati aku berusaha untuk mengingat semua.

Pesawat terus melaju. Aku harap diga mengetahui posisiku sekarang. Sungguh, saat ini aku belum ingin berbicara apapun dengannya. Aku mengambil handphoneku dan menghidupkannya. Aku membuka sms dari diga. “aku mencintaimu”

Aku tambah menangis, dan windy memberiku tisu. Aku memandangnya. Dia tersenyum.

“aku sayang sama diga win.. aku sayang banget..”

“iya aku tau gin..”

“aku nggak tau harus gimana sekarang, kamu tau sendiri kan? Aku bahkan sedarah dengannya..”

“sudahlah gin..”

“kamu nggak tau apa yang aku rasain sekarang kan..”

“iya aku mungkin nggak tau, aku bahkan tidak pernah berada dalam posisi kamu saat ini.. tapi..”

“tapi apa…”

“kalau kamu beneran sayang sama diga. Kembalilah gin, sebelum terlambat. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja..”

“kamu nggak malu gin punya temen kaya aku?”

“malu kenapa?”

“aku pacaran sama kaka sepupuku sendiri win… kami saudara. Kami sedarah”

“cukup gin”

“kamu nggak tau…”

Aku menangis lagi, kali ini lebih merendah. Aku melihat windy pergi. Saat ku buka mataku kembali, windy telah berganti posisi dengan diga. Aku terdiam, menatapnya dengan sendu.

“maafin aku gin..”

Aku masih terdiam memandanginya. Entah aku tidak tau lagi harus bersikap bagaimana dengan diga. Sedangkan perasaanku seperti sedang di permainkan. Bahkan dewa amor lebih mementingkan cintanya yang terus bersemi-semi tanpa memperdulikan status yang aku sandang.

“gina..”

Aku terus terdiam, aku sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan diga. Tangannya kini menggenggam tanganku. Dan entah apa yang aku rasakan. Aku benar-benar tidak tahu.

“aku sudah lama.. mencari kamu.. tante jahat gin, dia sama sekali nggak kasih aku keberadaan kamu. Om juga.. padahal aku memohon sambil ya… menangis. Aku tau itu memalukan, tapi maafin aku gin.. aku sudah berbicara sama om dan tante bahkan sama mama papa, kalau aku bener-bener sayang sama kamu.. dan mereka mencegah aku buat cari kamu..”

Aku menatapnya dalam. Apa diga sudah gila? Dia memberitahu keluarga kalau aku dan dia?

“maaf.. sekali lagi aku minta maaf”

“aku sayang sama kamu..” kataku akhirnya

“aku juga gin, aku sayang banget sama kamu.. aku ebner-bener sayaaang banget sama kamu..”

Entahlah apa yang aku ucapkan. Itu muncul dari hati. Pikiranku kemana-mana. Selama ini mom and dad tau keadaannya bagaimana. Tapi mom tidak pernah menyinggung itu. Padahal dia sering mengunjungiku disini. Dia menelponku setiap hari. Kepalaku terasa mau pecah mendengar itu semua. Sebentar lagi aku akan bertemu mereka, entah makian apa yang akan aku dapat. Dan bahkan sekarang aku pulang dengan diga.

“jangan khawatir gina”

“untuk apa?”

“jangan takut, kalau sudah sampai Jakarta. Aku nggak bakalan ganggu kamu lagi. Jadi tante sama om juga nggak bakalan marah sama kamu”

“maksud kamu?”

“aku bakalan pergi..”

“kemana?”

“entahlah..”

“kamu tega?”

“maksud kamu?”

“kamu tega ninggalin aku untuk yang kedua kalinya dig..?”

Diga terdiam. Dia menatapku dan aku menatapnya. Aku ingin sekali menjerit dan bertanya kepada Tuhan kenapa aku ada di lingkaran seperti ini. Aku ingin mengubah statusku. Aku ingin dilahirkan bukan untuk menjadi keluarga diga. Aku ingin terlahir bebas. Aku ingin bebas mencintai diga. Aku ingin bersama diga.

“nggak. Aku nggak bakalan ninggalin kamu lagi gin”

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Cukup. Tolong Tuhan jangan teruskan ini semua. Aku tidak ingin tahu lebih banyak lagi. Tangan diga lebih erat menggenggam tanganku. Lima belas menit lagi aku akan menginjakkan kakiku di Jakarta, akan bertemu dengan mom.

“diga..”

“iya?”

“janji ya? Jangan pergi lagi. Jangan suka sama cewek lain lagi. Jangan buat aku nangis lagi. Jangan bikin aku takut lagi. Jangan…”

“aku janji”

Hatiku menenang. Rasanya begitu lega walaupun sebentar lagi mungkin hatiku akan rontok mendengar makian mom. Aku tau ini salah besar. Aku sangat tahu. Tapi bagaimanapun.. aku tidak akan berlari lagi seperti dulu. Aku akan menghadapinya. Biarkan Tuhan saja dan takdir yang memisahkan aku dan diga.

________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Hari ini aku wisuda. Aku sangat bahagia. Mom and dad datang ke singapur begitu juga tante dan om farid. Dan diga? Pasti. Dia sudah duduk manis di singapur sejak seminggu yang lalu sebelum akhirnya aku lulus sidang.

Ada banyak keajaiban yang terjadi di antara aku dan diga. Entah bagaimana akhirnya, mom, dad, tante, dan om farid tersenyum melihat kami. Entahlah. Aku juga tidak tahu akan bagaimana selanjutnya kisah ini.. akankah Tuhan merestui? Atau Tuhan berkata lain.. yang terpenting sekarang, aku tulus mencintai diga. Diga tulus mencintaiku. Dan biarkan Tuhan yang menjawab bagaimana selanjutnya. Terima kasih untuk semua kesempatan yang pernah aku miliki Tuhan. Terima kasih.



_____________________ The End __________________________________


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tips Menabung Emas (top rekomendasi Pegadaian Digital)

Hi, masih bingung bagaimana caranya untuk memulai menabung Emas? Berikut beberapa tips untuk kamu yang ingin memulai menabung Emas ya: ...