Selasa, 06 Mei 2014

Secangkir Rindu (Part 7)



SECANGKIR RINDU UNTUK DIGA

AKU SAKIT HATI
(part 7)
Diga benar-benar keterlaluan. Dia sama sekali tidak pernah memperhatikanku. Aku harap mencintai diga hanyalah sandiwara. Aku makin memaki diriku sendiri. aku ingin mengulang lagi waktu dimana aku sangat membenci diga, seperti pertama kali kita bertemu. Aku ingin membentaknya, aku ingin mencacinya. Tapi kenapa? Tiba-tiba rasa gila itu datang. Rasa yang tiba-tiba menjadi sayang, menjadi cemburu, menjadi cinta.
Sudah banyak masalah yang aku dan diga hadapi berdua. Tapi untuk kali ini berbeda. Aku sendirian yang menghadapinya. Sedangkan diga pergi begitu saja. Bahkan dia pergi dengan masalah itu sendiri. Aku semakin menyalahkan perasaanku. Apa ini sudah berakhir?
Tiga hari lagi, aku akan pindah ke singapur. Aku bahkan sudah mengemas barang-barangku. Hampir setiap hari ini aku menangis kalau mengingat diga, status aku dan diga, cintaku terhadap diga, dan wanita bernama Karin. Aku hampir ingin mati kalau mengingat itu semua. Dosa apa yang pernah aku buat sampai Tuhan menghukumku seperti ini?
Hari ini diga mengajakku makan sushi. Dan aku menyetujuinya, bahkan dia lagi-lagi harus membawa Karin. Iya aku tau, kalau Karin memperpanjang cuti kuliahnya dan tinggal di Jakarta bersama ibunya. Aku agak malas. Tapi entahlah.. bukankah ini hari-hari terakhirku bersama diga? Bahkan diga belum mengetahui kalau aku akan pindah kuliah.
“hai sayang..” sapa diga dengan senyuman
“hai..”
“kamu cantik banget hari ini?” pujinya
“Cuma hari ini ya? Kemarin enggak? Oh iya aku hampir lupa. Kan Karin lebih cantik dari aku”
“kamu kenapa sih? Setiap kali aku ngomong, aku selalu salah. Kamu bawa-bawa Karin terus.”
“aku bawa-bawa Karin terus? Bukannya kebalik? Hah?”
“aku nggak pernah bawa-bawa dia”
“kita makan sushi aja, musti jemput Karin dulu kan?”
“nggak”
“jawab aja iya. Susah banget sih”
“gina?”
“apa”
“aku harus gimana sekarang?”
“nggak musti gimana-gimana”
“maaf..”
“kita mau kemana? Kok belok?”
“Karin pindah apartement. Dia sekarang di one park residence”
“oh”
“iya..”
“kamu nggak bisa ya sehari aja nggak ngajak Karin?”
“tapi gin..”
“apa?”
“aku nggak bisa, apalagi papah aku udah..”
“aku mau turun” (kamu mau pilih siapa?)
“turun?”
“iya, aku mau turun disini sekarang” (kamu harus pilih sekarang, aku atau Karin?)
_____________________________________________________________________
Aku membelalak melihat diga meneruskan perjalanannya menuju apartemen Karin. Aku menyesal, sungguh aku sangat menyesal. Air mataku mengalir lebih deras. Bahkan hujan badaipun kalah. Aku masih tidak percaya, bahwa sekarang diga lebih memilih Karin daripada aku. Aku benar-benar tidak tau bagaimana jalan pikirannya.
Rasanya aku ingin mati saja. Sungguh demi apapun, aku sangat mencintai diga. Tapi entah dengannya. Diga seperti monster sekarang, dia berlaku seakan aku bukan siapa-siapa. Apakah benar dari dulu dia hanya menganggapku sebagai adik sepupunya?
Apa dia tidak mengingat sedikitpun tentang semuanya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tips Menabung Emas (top rekomendasi Pegadaian Digital)

Hi, masih bingung bagaimana caranya untuk memulai menabung Emas? Berikut beberapa tips untuk kamu yang ingin memulai menabung Emas ya: ...