Selasa, 06 Mei 2014

Sevangkir Rindu (Part 8)



SECANGKIR RINDU UNTUK DIGA

Good bye, Mom and Dad
(part 8)

Aku sengaja memberitahu mom agar tidak memberitahu diga. Dan mom menyetujuinya, kelihatannya mom tahu keadaanku. Aku sudah menyewa Apartemen di singapur. Bahkan aku akan tinggal dekat dengan rumah windy, temanku dulu.

Aku akan di antar mom and dad ke bandara siang ini. Dan sampai detik ini, diga belum menghubungiku. Aku harus mencoba melupakannya dari sekarang..

“mom, nggak usah lah setiap bulan ke singapur, sama aja nanti aku nggak mandiri”

“tapi kan gin..kalau kamu butuh apa-apa gimana? Kalau kamu kenapa-napa gimana?”

“mom, aku cuma ke singapur buat kuliah, jangan terlalu khawatir ya..”

Tiba-tiba handphoneku berbunyi, aku melirik ke wallpaper. Ada foto diga dan aku disana yang sedang tersenyum dan melambaikan tangan. Aku masih ingat foto itu di ambil waktu aku dan diga bermain di dufan tiga bulan yang lalu. Di perjalanan seperti ini, diga baru menghubungiku.

“halo..”

“gina? kamu lagi ngapain?”

“lagi di jalan dig.. kenapa?”

“sama siapa?”

“mom sama dad”

“kemana? Lunch ya?”

“hm..”

“tumben om david nggak ngajakin aku, biasanya dia sangat rewel kalau ada acara makan begitu”

“oh..” (kamu beneran nggak tau kalau aku mau pergi dig?)

“oya gin, besok kamu bisa ke kampus nggak?”

“kampus..?”

“iya..”

“ngapain?”

“Pak hadi, dosenku itu minta laporan liniernya besok. Laporanku ada di meja belajar gin, oya sampulnya warna kuning”

“nanti aku suruh pak darto kesana ya..”

“kamu pelit banget sih? Aku kan minta tolong..”

“kabar om sama tante disurabaya baik kan dig?”

“iya mama papa baik..”

“baguslah..” (terus gimana Karin? Dia baik juga? Pasti bahagia banget yah.. bisa ngunjungin rumah kamu.. sekarang)

“kamu kapan mau nyusul aku ke Surabaya?”

“ngapain?” (untuk apa dig.. kamu mau nyakitin aku lebih dari ini? Apa aku harus ngeliatin kamu terus-terusan bareng sama Karin..?)

“aku kangen sama kamu gin. Akhir-akhir ini kamu seakan menghindar dari aku. Aku nggak tau apa salahku..”

Aku langsung menutup telponku. Mataku basah kembali. Aku menangis lagi, untuk yang kesekian kali hanya karna diga. Aku memeluk mom, dan mom balik memelukku. Mom tidak berbicara sedikitpun, begitu juga dengan dad dan pak darto. Mereka semua terdiam, seakan semuanya tau apa yang aku rasakan.

Lima belas menit lagi aku akan pergi. Aku masih ingin menelpon diga untuk terakhir kali sebelum aku membuang kartu dihandphoneku. Aku ingin tau sekarang dia memikirkan aku atau tidak. Kalau dia masih memikirkan aku, aku akan menghubunginya lagi setelah di singapur. Tapi kalau tidak, sungguh aku berjanji pada diriku sendiri untuk melupakan diga. Untuk membuang memoriku tentang diga sejauh-jauhnya.

“diga kamu lagi ngapain?” (diga aku dibandara)

“lagi mau makan nih gin.. kamu udah makan belum?”

“udah..” (belum, aku bahkan pengen muntah kalau melihat nasi)

“hm.. kok rame banget sih disana?”

“iya..”

“oya, aku lupa kalau kamu kan lagi makan di luar juga..”

“iya..”

“kamu pesen apa gin? Ah pasti steak, iya kan?”

“iya..”

“hahaha, kamu ini nggak berubah sama sekali yah..”

“iya..” (perasaanku ke kamu juga tidak berubah sedikitpun, tapi entah setelah aku disingapur)

“aku makan sama karina”

“..i..iya”

“dia baik orangnya gin..”

“iya aku tau..”

“dia juga sangat dewasa..”

“iyakah..” (apa aku sangat childish?)

“iya.. dia manis kalau tersenyum..”

“iya”

“dia bisa tau kapan aku lagi sedih..kapan aku lagi mikirin sesuatu yang penting..semuanya”

“iya”

“gina, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu”

“apa? Aku nggak denger. Nanti aku telpon lagi aja ya”

Aku lagi-lagi mematikan telponku. Dan kali ini aku tidak main-main. Aku membuang kartu dan menggantinya dengan yang baru. Lalu aku berjalan menuju pesawat, duduk di pinggir jendela. Aku sangat takut dengan kata-kata terakhir diga. Sebelumnya aku mendengar seribu pujian untuk Karin dan aku yakin kata-kata terakhir diga adalah dia lebih memilih Karin daripada aku. Aku sama sekali tidak ingin menerimanya. Permainan apa ini?

Pesawatku boarding tepat pada waktunya.. selamat tinggal Jakarta, Surabaya, Indonesia, dad, mom..selamat tinggal cinta pertamaku yang menyakitkan, diga pratama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tips Menabung Emas (top rekomendasi Pegadaian Digital)

Hi, masih bingung bagaimana caranya untuk memulai menabung Emas? Berikut beberapa tips untuk kamu yang ingin memulai menabung Emas ya: ...